Monday, February 3, 2020

Biografi singkat KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah)


KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah meninggal dunia pada, Minggu 2 Februari 2020 pukul 20.55 WIB. Adik kandung Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu wafat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. 

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Robikin Emhas mengatakan, masyarakat Indonesia berduka dan merasa kehilangan tokoh panutan yang gigih memperjuangkan hak asasi manusia. "Kita kehilangan tokoh panutan. Tokoh yang gigih memperjuangkan martabat kemanusiaan dan hak asasi manusia. Tokoh yang memimpikan umat agar bersatu. Semoga kita dapat meneruskan perjuangan beliau," kata Robikin dalam keterangan tertulisnya.

KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah yang lahir di Jombang pada 11 September 1942 memang dikenal sebagai aktivis, politisi, dan tokoh yang giat memperjuangkan tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM). Berikut ini profil singkat Gus Sholah dirangkum dari detikNews, dan sejumlah sumber.


Kelahiran

Gus Sholah lahir di Jombang, Jawa Timur pada 11 September 1942. Dia merupakan putra ke-3 dari pasangan KH Wahid Hasyim dan Sholichah

Pendidikan

Gus Sholah menempuh pendidikan tingkat SD hingga SMA di Jakarta. Ilmu agama dia dapat dari mengaji bersama saudara-saudaranya. Setiap hari sang ayah, KH Wahid Hasyim selalu memberi pengajian kepada anak-anaknya.

Setelah sang ayah wafat, Gus Sholah mendapat pelajaran ilmu agama dari KH Bisri Syansuri. Setiap liburan sekolah, Gus Sholah sering belajar ke Pesantren Denanyar Jombang, Jawa Timur. Selain baca tulis Al Qur'an, Gus Sholah bersaudara juga belajar ilmu fiqh, nahwu, sorof, dan tarikh.

Selepas SMA, dia melanjutkan kuliah di jurusan arsitektur Institut Teknologi Bandung. Di sinilah Gus Sholah mulai aktif dalam sejumlah kegiatan organisasi kemahasiswaan. Mulai dari Senat Mahasiswa hingga Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Keluarga

Pada tahun 1968, Gus Sholah yang saat itu masih berstatus mahasiswa menikahi Farida, putri mantan Menteri Agama, KH. Syaifudin Zuhri. Mereka dikarunia tiga anak, yaitu Irfan Asy'ari Sudirman yang akrab disapa Ipang Wahid, Iqbal Billy, dan Arina Saraswati.

Karier

Tahun 1977 : Biro Konsultan PT MIRAZH.
Tahun 1978 - 1997 : Direktur Utama Perusahaan Konsultan Teknik
Tahun 1989-1990 : Ketua DPD Ikatan Konsultan Indonesia/Inkindo DKI
Tahun 1991-1994 : Sekretaris Jenderal DPP Inkindo
Tahun 1995-1996 : Assosiate Director Perusahaan Konsultan Properti Internasiona
Tahun 2001 - 2004 : Wakil Ketua II Komnas HAM 

Organisasi:

Tahun 1995 - 2000 : Anggota Dewan Penasehat ICMI
Tahun 2000 - 2005 : Ketua MPP ICMI
Kiprah di Politik

Tahun 1998- 1999 : Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Umat
Tahun 2004. : Menjadi calon wakil presiden dari Capres Wiranto yang diusung Partai Golkar
Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng

Pada 13 April 2006, Gus Sholah resmi menjadi pengasuh Pondok P esantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. 

Sunday, February 2, 2020

Text dan Video Sholawat Nahdliyyah


Shalawat Nahdliyyah adalah susunan shalawat
kepada Rasulullah Saw. yang di dalamnya terkandung misi Nahdlatul Ulama' (NU). Disusun oleh KH. Hasan Abdul Wafi.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
صَلَاةً تُرَغِّبُ وَ تُنَشِّطُ
وَ تُحَمِّسُ بِهَا الجِهَاد لِإِحْيَاءِ
وَ اِعْلَاءِ دِيْنِ الإِسْلَام
وَاِظْهَارِشَعَائِرِهِ عَلَي طَرِيْقَةِ
جَمْعِيَّةِ نَهْضَةِ العُلَمَاءِ
وَعَلَي اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
. اللهُ اللهُ اللهُ اللهُ.
ثَبِّتْ وَانْصُرْ اَهْلَ جَمْعِيَّة
جَمْعِيَّة نَهْضَةِ العُلَمَاءِ
لِإِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللهِ

Thursday, January 30, 2020

Sejarah Lahirnya NU

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sejarah hari lahir NU terjadi 93 tahun silam, tepatnya tanggal 31 Januari 1926. Pendirian NU digagas para kiai ternama dari Jawa Timur, Madura, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, yang menggelar pertemuan di kediaman K.H. Wahab Chasbullah di Surabaya.
Selain K.H. Wahab Chasbullah, pertemuan para kiai itu juga merupakan prakarsa dari K.H. Hasyim Asy’ari. Yang dibahas pada waktu itu adalah upaya agar Islam tradisional di Indonesia dapat dipertahankan. Maka, dirasa perlu dibentuk sebuah wadah khusus.
Sebenarnya, upaya semacam itu sudah dirintis Kiai Wahab jauh sebelumnya. Bersama K.H. Mas Mansur, seperti ditulis Ahmad Zahro dalam buku Tradisi Intelektual NU: Lajnah Bahtsul Masail 1926-1999 (2004), Kiai Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan yang artinya “kebangkitan tanah air" pada 1914.
Martin van Brulnessen dalam buku berjudul NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994) menyebut bahwa, boleh dibilang, Nahdlatul Wathan merupakan sebuah lembaga pendidikan agama bercorak nasionalis moderat pertama di Nusantara.

Sebagai catatan, Nahdlatul Wathan versi Kiai Wahab dan Kiai Mas Mansur berbeda dengan lembaga bernama serupa yang didirikan Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di Lombok, Nusa Tenggara Timur, pada 1953.

Ir. Soekarno anti Zionis Israel

JIKA dilihat dari letak geografis, sebenarnya Israel masih masuk di kawasan Asia. Untuk itulah seharusnya negara tersebut bisa ikut berpartisipasi, pada ajang Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta-Palembang.

Namun, sayang Israel tidak tampil pada pentas Asian Games tahun 2018. Tentu saja banyak yang bertanya-tanya, mengapa?

Padahal beberapa negara timur tengah seperti Palestina dan Suriah, semuanya mengikuti pesta olahraga tingkat Asia ini.

Melihat dari rekam jejak sejarah, rupanya Indonesia menjadi negara pertama yang tidak mengizinkan Israel bertanding di pentas Asian Games.

Pada tahun 1962, waktu itu presiden RI pertama Soekarno, menolak Israel untuk ikut berpartisipasi pada ajang Asian Games IV yang diselenggarakan di Jakarta.

Hal itu tak lain karena kedekatan Indonesia dengan Palestina, dan aksi pemboikotan ini menjadi bentuk solidaritas Indonesia terhadap Palestina.

Waktu itu Indonesia juga tengah gencar memberikan dukungan moral terhadap Palestina.

Hal itu menjadi awal mulai Israel mulai diasingkan dari pentas ini, meski pada tahun berikutnya 1966 dan 1970, Israel kembali diperbolehkan mentas di Asian Games, yang digelar di Bangkok Thailand.

Lalu pada ajang Asian Games berikutnya tahun 1974 di Teheran, Israel juga kembali mengalami hal serupa, atlet dan negara Israel medapatkan persekusi dan semi boikot dari beberapa negara Arab.

Israel boleh ikut serta pada ajang ini, namun atlet-atlet dari negara Arab menolak untuk bertanding dengan atlet dari Israel, atas dasar solidaritas.

Berawal dari pemboikotan yang dilakukan Indonesia, hingga pengucilan oleh negara-negara arab telah memicu reaksi besar.

Pada tahun 1974 dan 1978 di Asian Games yang digeral di Bangkok, pemboikotan atas Israel kembali dilakukan.

Pemboikotan ini tidak dilakukan oleh tuan rumah Thailand, namun secara langsung dilakukan oleh Asian Games Federation (AFG), selaku organisasi resmi Asian Games.

Akibat pemboikotan ini, Presiden Komite Olimpiade Israel waktu itu Joseph Inbar marah besar pada AFG.

Namun, dengan tegas AFG menyatakan pemboikotan tersebut, hal ini didasari atas pertimbangan Dewan, yaitu tujuh negara Arab dan China yang memutuskan mendepak Israel.

Bahkan didepaknya Israel tersebut juga membuat heboh internasional, sebuah koran yang berbasis di Rusia,Petersburg Times mewartakan pemboikotan Asian Games atas Israel pada 26 Juli 1976.

Pada 1982, pada gelaran Asian Games di India, AFG benar-benar tak memasukan Israel di dalamnya, keputusan ini juga diperkuat oleh IAAF (Federasi Atletic Amatir International).

Dilansir New York Times, putusan tersebut dihasilkan dari kongres pada tahun 1983, menyebutkan "Voting Kongres menghasilkan 374-10 untuk keputusan mendukung pelarangan Israel tampil di Asian Games 1982.

Akibat boikot besar-besaran tersebut kini Isarael kesulitan tampil di pentas Asian Games, bahkan ditolak dalam beberapa ajang seperti Mediterranean Games (1951) dan Arab Games (1974).

Biografi singkat KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah)

KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah meninggal dunia pada, Minggu 2 Februari 2020 pukul 20.55 WIB. Adik kandung Presiden ke-4 RI KH Abdu...